Pengalaman Seks Bersama Janda Kesepian - Ini adalah sebuah kisah seks dengan tante yang berstatus janda kesepian yang seksi. Janda beranak tiga yang sudah lama ditinggal suaminya. Bagaimana kisah dan ceritanya, silahkan simak selengkapnya berikut ini!
Namaku Wawan, umurku sekarang 26 tahun. Aku ada cerita menarik mengenai
pengalaman seksku. Kejadian ini terjadi pada saat aku masih duduk
dikelas 3 SMA, yach kira-kira umurku masih sekitar 19 tahun. Karena
tinggal di salah satu kota besar yang terkenal dengan pendidikannya, aku
dititipkan oleh orangtuaku di rumah tanteku yang kebetulan juga bekerja
sebagai dosen disalah satu perguruan swasta terkenal dikota.
Tanteku
namanya Yuni, dia ini seorang "Single parent" dengan tiga orang anak;
dua perempuan dan satu laki-laki. Suaminya sudah meninggal karena
kecelakaan mobil. Suaminya ini memang seorang pembalap lokal yang tidak
terkenal namanya. Dengan tiga orang anak dan umurnya yang sudah 37
tahun, tanteku ini masih saja kelihatan seksi. Tubuhnya terawat, karena
dengan kondisi keuangannya yang mapan, tanteku secara teratur senam.
Hasilnya, walaupun dengan tiga orang anak, tubuhnya tetap terawat dengan
baik. Pantatnya besar dengan pinggul yang juga besar tapi pahanya
selain putih dan mulus juga singset tanpa ada tumpukan lemak sedikitpun.
Payudaranya lumayan besar, entah kira-kira berapa ukurannya akupun
tidak tahu tapi yang jelas masih sekal tidak kendor layaknya seorang Ibu
yang sudah melahirkan tiga orang anak.
Kejadiannya berawal pada
saat yang tidak diduga sama sekali. Saat itu di rumah sedang tidak ada
orang hanya ada tanteku yang sedang asyik memasak untuk hidangan makan
siang, kebetulan hari itu jadwal mengajar tanteku hanya satu mata kuliah
saja.
Sepulang sekolah, aku menemukan tanteku didapur sedang
asyik memasak. Dengan langkah gontai karena kecapekan, aku langsung
menghampiri meja makan.
"Tante Yun, belum siap yah makanannya?" tanyaku kelaparan.
"Belum Wan, sabar yah. Ini lo si Suti (pembantu tanteku) pulang tadi pagi, jadinya ya gini nih repot sendiri" keluh tanteku
Di
dahinya terlihat cucuran keringat, belum lagi tangannya yang belepotan
dengan berbagai macam bumbu yang sedang diraciknya. Kelihatan sekali
kalau tanteku tidak pernah kerja "Sekeras" ini. Walaupun begitu, entah
kenapa terlihat sekali wajah tanteku semakin cantik.
Saat itu dia
hanya menggunakan daster pendek yang sebenarnya tidak ketat tapi karena
bentuk pantat dan pinggulnya yang besar, daster itu jadi kelihatan agak
ketat dan memetakan garis dari celana dalamnya kalau dia sedang
membungkukkan badannya. "Ah, seksi sekali" pikirku kotor.
"Wawan bantuin ya Tante?" tawarku.
"Boleh Wan, sini!" ternyata tanteku tidak keberatan.
Tidak
ada angin tidak ada hujan, belum sampai aku mendekat, entah karena apa
tiba-tiba kran air di cucian piring copot dari pangkalnya. Otomatis air
yang langsung dari tandon air yang penuh menyembur dengan derasnya
mengenai tanteku yang kebetulan ada didepannya.
"Aduh Wan, tolong.., gimana ini?" tanteku dengan paniknya berusaha menutupi saluran air yang menyembur dengan tangannya.
Karena
tubuh tanteku tidak terlalu tinggi, untuk mencapai saluran itu dia
harus sedikit membungkuk. Terlihat sekali dasternya yang sudah basah
kuyup itu sekali lagi memetakan pantatnya yang besar. Garis celana
dalamnya kini terlihat lebih jelas.
Dengan tergesa-gesa, tanpa
pikir-pikir lagi aku segera mendekat dan membantunya menutup saluran air
itu dengan tanganku juga. Tanpa aku sadari ternyata posisi tubuhku saat
itu seperti memeluk tubuhnya dari belakang. Bisa di bayangkan, tanpa
sengaja juga kontolku mengenai belahan pantatnya yang sekal. Keadaan ini
bertahan beberapa lama. Hingga menimbulkan sesuatu yang kotor
dipikiranku.
"Aduh Wan gimana ini?" tanya tanteku tanpa bisa bergerak.
"Duh gimana ya Tante, aku juga bingung." kataku mengulur waktu.
Saat
itu, karena gesekan-gesekan yang berlebihan di kontolku, aku jadi tidak
bisa menahan gairah untuk merasakan tubuhnya. Pelan-pelan aku melepas
satu tanganku dari saluran air itu, pura-pura meraba-raba disekitar
cucian piring, mencari sesuatu untuk menutup saluran air itu sementara.
Tanpa sepengetahuannya aku justru melepas celanaku berikut juga celana
dalamku. Memang agak susah tapi akhirnya aku berhasil dan dengan tetap
pada posisi semula kini bagian bawahku sudah tidak tertutup apa-apa
lagi.
"Wah, nggak ada yang bisa buat nutup Tante. Sebentar Wawan carikan dulu yah"
Kini niatku sudah tidak bisa ditahan lagi, pelan-pelan aku melepas peganganku di saluran air.
"Pegang dulu Tante" kataku sedikit terengah menahan gairah.
"Yah, gih sana cepetan, Tante sudah pegal nih" sungut tanteku.
Kemudian
tanpa pikir panjang, secepat kilat aku menyingkap dasternya, kemudian
secepat kilat juga berusaha untuk melorotkan celana dalamnya yang entah
warnanya apa, karena sudah basah kuyup oleh air, warna aslinya jadi
tersamar.
"Ehh.. apa-apan ini Wan, jangan gitu dong!?" tanpa
sadar tanteku melepas pegangannya disaluran air untuk menahan tanganku
yang masih berusaha melepaskan celana dalamnya. Air menyembur lagi.
"Auhh..
ohh" suara tanteku jadi tidak jelas karena mulutnya kemasukan air.
Tanpa sadar juga tanteku berusaha untuk menutup saluran air dengan
tangannya lagi, otomatis tanganku sudah tidak ada yang menahan lagi.
"Kesempatan" pikirku, dengan satu sentakan celana dalam tanteku merosot sampai diujung kakinya.
"AuWCh.. duh Wan jangan, aku ini tantemu, jangann.." Mohon tanteku.
Kepalang
tanggung, aku langsung jongkok. Aku lalu menyibak pantatnya yang besar
dan mencari liang senggamanya. Kudekatkan kepalaku, kujulurkan lidahku
untuk mencapai vaginanya.
"AuWChh.. Wan.. ahh.." jilatan
pertamaku ternyata membuatnya bergetar tanpa bisa beranjak dari tempat
semula, kalau bergerak air pasti akan menyembur lagi.
Lidahku
semakin leluasa merasakan aroma dari vaginanya, semakin kedalam membuat
tanteku bergetar hebat. Entah kenapa sudah tidak ada lagi bahasa
tubuhnya yang menunjukkan penolakan, yang ada kepalanya semakin
menggeleng-geleng tidak keruan. Kecari klitorisnya, memang agak sulit,
setelah dapat kuhisap habis, dua jariku juga ikut menusuk liang
vaginanya. Tidak terkira jumlah lendir yang keluar, tak lama kemudian,
terasa pantatnya bergetar hebat.
"Ahh..hh Wann.. ahh aouhh.."
dengan erangan keras, rupanya tanteku sudah mencapai orgasme. Tubuhnya
langsung lunglai tapi tanpa melepas pengangannya dari saluran air.
"Aduh aku belum apa-apa" pikirku.
Langsung
aku berdiri, kusiapkan senjataku yang sudah mengacung dengan keras.
Dengan dua tanganku aku coba menyibakkan kedua belahan pantatnya sambil
kudekatkan kontolku kevaginanya. Kudorongkan sedikit demi sedikit.
Begitu sudah betul-betul tepat dimulut liang kenikmatannya, tanpa
ba-bi-bu langsung kulesakkan dengan kasar.
"Ahh sakit Wan..
pelan.. auh" kepala tanteku langsung melonjak keatas, tanpa sengaja
pegangannya di saluran air terlepas. Air menyembur dengan deras.
Kepalang basah, begitu mungkin pikir tanteku karena selanjutnya dia
hanya berpegangan dipinggiran cucian piring. Sudah tidak ada penolakan
pikirku.
Kudiamkan sebentar kontolku yang sudah masuk hingga
pangkalnya didalam vagina tanteku, ku nikmati benar-benar bagaimana
ternyata vagina yang sudah mengeluarkan tiga orang manusia ini masih
saja nikmat menggigit. Sensasi yang sangat luar biasa sekali.
Pelan-pelan kutarik, kemudian kudorong lagi.
"Oohh.. Wan enak, terus sayang..yang cepat aouhh.. ahh.. terus sayang" pantatnya bergoyang melawan arah dari kocokanku.
"Nah gitu Wan, ouhh.. ya gitu teruuss.." Pinta tanteku.
Aku terus mengocokkan kontolku dengan cepat. Sebentar kemudian tubuhnya mulai bergetar hebat.
"Yang cepat Wan, Tante sudah mau keluar lagi.. ouhh.. terus" kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak karuan.
"Cepatt..
cepatt truss.. ouchh.. Tante kelluaarr.. aghh" Orgasmenya telah sampai
dibarengi dengan kepalanya yang melonjak naik, tangannya mencengkeram
pinggiran cucian piring dengan erat.
"Cabut dulu Wan.. Tante linuu.." pinta tanteku, karena merasakan aku yang masih mengocoknya dari belakang.
"Akan wawan cabut, tapi janji nanti diteruskan ya Tante?" kataku.
"Iya, tapi sekarang dari depan aja yah" janji tanteku.
Tubuhnya
kemudian berbalik. Wajahnya sudah awut-awutan dan basah kuyup. Kemudian
dia duduk diatas cucian piring sambil menghadapku. Aku mendekat,
langsung kucari bibirnya dan kemudian kami berpagutan lama. Sambil kami
berciuman, satu tangannya membimbing kontolku kearah liang vaginanya.
Tanpa disuruh dua kali kudorongkan pantatku dibarengi dengan masuknya
juga kontolku.
"Ahh.. oohh.." erang tanteku, ciuman kami terlepas.
"Kocokkan yang cepatt wann.." pinta tanteku sambil pahanya semakin dilebarkan.
"Begini Tante.." Kataku sambil mengocokkan kontolku dengan cepat.
"Gila
kamu Wann.. kuaatt sekalii kamuu.." sambil satu tangannya menarik satu
tanganku, kemudian ditaruhnya di bagian atas vaginanya. Aku tahu mau
maksudnya.
"Yahh yang ituu.. teruss Wann.. ohh enakk.. Wan
teeruss.." rintih tanteku ketika sambil kontolku mengocok vaginanya
tanganku juga memelintir klitorisnya.
"Ohh Wan, Tante hampir sampai.." tubuhnya mulai bergetar agak keras.
"Aku
juga hampir sampai Tante.. ohh punya Tante eenakk.." aku mulai tidak
bisa mengendalikan lagi, orgasmeku tinggal sebentar lagi.
"Dikeluarin dimana Tante?" tanyaku minta ijin.
"Udah nggak usah mikirin itu, ayoo teruss.. didalemm jugaa nggakk Papa"
"Ayoo..Tante udah diujung nihh wann.."
"Ouhh.. enakk.. cepatt Wann.. yangg cepatt" rintih tanteku.
"Goyang Tante, kita barengan ajaa.. oghh" orgasmeku sudah diujung.
Semakin
kupercepat kocokanku, tanteku juga mengimbangi dengan menggoyang
pantatnya. Sambil berpegangan pada belakang pantatnya, kukeluarkan air
maniku.
"Aku keluarr tantee.. aughh.." sambil kubenamkan dalam-dalam.
"Tante juga Wann.. oughh akhh.. gilaa.. uenakknya.." erangnya sambil jemarinya mencengkeram bahuku.
Akhirnya
kami berdua terkulai lemas. Kudiamkan dulu kontolku yang masih ada
didalam vaginanya. Kulirik ada sedikit lelehan air mani yang keluar dari
vaginanya. Seperti tersadar dari dosa, tanteku mendorong badanku.
"Kamu nakal Wan, berani sekali kamu berbuat ini" sungut tanteku.
"Tapi Tante juga menikmatinya kan?" belaku.
Tanpa
berkata apa-apa, dia kemudian turun, meraih celana dalamnya kemudian
berlalu kekamar mandi. Aku berusaha mengejarnya tapi dia sudah lebih
dulu masuk kamar mandi kemudian menguncinya.
"Tante air di tandon tadi sudah habis loh" candaku dari luar kamar mandi tapi tidak ada balasan dari dalam.
*****
Demikian
pengalamanku, selanjutnya kejadian seperti tadi berlangsung terus.
Walaupun menolak dalam hati tapi tubuh dan hasrat tanteku tidak bisa
menolak kontolku. Bagi para pembaca yang ingin berbagi pengalaman atau
mungkin justru ada Tante-Tante yang berhasrat seperti tanteku, silakan
hubungi emailku, pasti kubalas.
Judul : Pengalaman Seks Bersama Janda Kesepian
Deskripsi : Pengalaman Seks Bersama Janda Kesepian - Ini adalah sebuah kisah seks dengan tante yang berstatu...